|
photograph by: +Infanto-Arie, Wanhar dan Chaidir Mahyuddin. Sudah 2 minggu sejak persiapan panitia pelaksanaan mulai digiatkan, hujan turun terus menerus di Banda Aceh. Kalaupun berhenti, tetap dibumbui gerimis kecil. Namun hujan bukan hambatan melainkan tantangan yang harus dilewati, lihat saja para panitia tetap bekerja. Koordinasi-demi koordinasi dilakukan via email, Yahoo Messenger, Facebook, SMS dan Telepon mengisyaratkan semangat yang tak surut walau kini tak bisa dipungkiri kalau anggota ABC yang berdomisili di Banda Aceh tak sebanyak dulu lagi, namun tekat untuk menunjukkan kalau ABC exist tak surut selangkah pun. Waktu semakin dekat, dan begitu banyak yang harus dipersiapkan. Tak jarang anak-anak ABC bekerja hingga larut malam. Belum lagi siangnya beberapa orang harus mengorbankan “pekerjaan utamanya” hanya untuk mengurusi kepanitiaan. Tujuannya cuma satu; “SUKSES”. Ini adalah kali keduanya kegiatan antara ABC (Atjeh Bicycle Community) dan TDMRC Unsyah (Tsunami and Disaster Mitigation Research) dilaksanakan. Talkshow radio di beberapa tempat berbuah sambutan hangat, bahkan dari daerah dan minta ABC buat kegiatan yang sama didaerah mereka. Sungguh menyentuh. Hujam masih mengguyur Banda Aeeh di hari Sabtu itu, dimana panitia tengah sibuk memasang atribut acara, mempersiapkan dokument, memasang umbul-umbul bahkan hingga larut malam. Namun Tuhan mampu berkata lain, Minggu, hari yang dinanti justru langit bersinar cerah, kekawatiran peserta sunyi karena hujan, di pagi harinya dijawab dengan tawa. Begitu ramai yang ikut mendaftar di tenda panitia. Pak Walikota juga hadir dan asik berbincang-bincang dengan panita dan peserta lainnya. Pukul 08.07, acara dibuka dengan sambutan dari ABC, Ketua Panitia, Rektor UNSYAH dan dilepas oleh Walikota Banda Aceh, pak Mawardi. Peserta dibawa berwisata edukasi, sejarah dan panorama. Melalui pesisir Krueng Aceh, melintas Kampung Jawa dan situs sejarah Kampung Pande lalu menyusuri garis pantai Utara, akhirnya tim singgah di gedung penyelamatan Dayah Baroe. Pemilihan jalur ini merupakan interkoneksi antara konsep bersepeda, wisata dan edukasi untuk memberikan informasi pada masyarakat akan pengetahuan kebencanaan. Sepanjang jalan, peserta dapat melihat rambu siaga bencana, melalui jalurnya hingga akhirnya berlabuh di Gedung penyelamatan. Setelah beristirahat sejenak, peserta dibawa kembali berkeliling hingga berakhir di gedung TDMRC Ulee-Lhee. Sambil mengeringkan keringat yang bercucuran, peserta disuguhi minuman dari salah satu sponsor yang juga donor ABC untuk kegiatan ini. Sebelum kegiatan pembagian hadiah, peserta disuguhi angket tentang kebencanaan, untuk mengetahui sedalam apa pengertian peserta tentang kebencanaan. Setelah riuh rendah kegiatan penarikan undian oleh Panitia pada peserta, akhirnya kegiatan FUN bike tersebut ditutup tepat pukul 11.30 Wib. Setelah berehat sejenak yang diisi dengan makan siang dan sholat Juhur, panitia dan penonton berbondong-bondong menuju sirkuit Peukan Bada, dimana sedari pagi panitia perlombaan telah sibuk mempersiapkan perlombaan. Dari 3 kelas yang diperlombakan akhirnya hanya 2 kelas yang mampu diperlombakan. Hal ini karena kelas junior tidak memenuhi jumlah quota untuk layak diperlombakan. Ahirnya, pertandingan dibuka dengan perlombaan kelas bergengsi; Kelas Man Elite Open, untuk usia 18 tahun keatas. Peserta berasal dari Lhokseumawe, Takengon, Bireuen dan didominasi oleh peserta Banda Aceh. Trek sepanjang kurang lebih 1 Km, di gelar dengan 15 putaran/lap. Sungguh pertarungan yang luar biasa, para peserta berusaha keras melahap trek yang didominasi lumpur, tanah liat dan bebatuan dan saling bersaing ketat. Akhirnya Posisi pertama dan kedua diduduki oleh Fajar dan Juliansyah yang keduanya dari Takengon dan juara ketiga diduduki oleh salah satu peserta dari Belanda (beliau gak ingin namanya dipublikasikan). Duel dramatis juga ditunjukkan dalam pertandingan berikutnya; Kelas Tim Open yang diikuti oleh Tim BRAT dari Banda Aceh, Tim Takengon, Tim ADB dan Tim Bule (Belanda). Sedari awal Tim Takengon memimpin di putaran awal melalui pembalap perrtamanya, lalu disusul oleh tim Bule, ADB dan Tim BRAT. Hingga akhirnya Tim Takengon harus berhenti karena kerusakan pada sepedanya saat pembalap kedua melaju dan harus mendorong sepeda hampir 2Km dalam keadaan sepeda penuh lumpur dan jauh ditnggal peserta yang lain. Tim Bule dan Tim ADB melaju meninggalkan tim BRAT dan Takengon. Namun pada putaran akhir lap di pembalap kedua, tim ADB berhasil dipotong oleh tim BRAT. Dengan Pembalap ketiga, Tim Takengon mengejar ketinggalan demi ketinggalan. Satu persatu dikejar walau telah overlap. Setelah berhasil memotong pembalap ADB, pada putaran akhirnya, tim Takengon berhasil memotong pembalap BRAT dan mengukuhkan diri di posisi kedua. Hingga akhirnya posisi podium menjadi; Juara pertama: Tim Bule (Belanda), Juara Kedua: Tim Takengon dan juara ketiga: Tim BRAT (Banda Aceh). Sungguh minggu itu merupakan minggu terlelah buat teman-teman ABC. Beberapa petikan penting dari kegiatan ini adalah; Kalau kita mau dan bersatu, kita bisa dan mampu. Kebersamaan mengalahkan segalanya. Salam Gowes..... |