|
Bike clinic; Bike 2 School |
|
|
|
|
Ditulis oleh Arie Infanto
|
|
Minggu, 02 November 2008 11:00 |
 |
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Tardi
|
|
Minggu, 02 November 2008 11:00 |
 | Berawal dari petunjuk teman yang sudah mengunjungi pada hari sebelumnya, (Iday cs) bahwa sungai sarah jernih dan bisa untuk berenang, maka kami memutuskan untuk berkunjung dengan sepeda, kami hanya berlima, bermodal sarapan bubur di Blang Padang, sedangkan saya menunggu di simpang ajun menunggu mereka sambil sarapan nasi bungkus, tepat jam 09:00 kami memulai perjalanan dari Ajun. Disepanjang jalan yang lumayan terik pada saat itu, dan lewat petunjuk telp dari Mba Iday serta Tanya kepada orang dijalan mengenai arah tempat tujuan, akhirnya kamipun tiba di sungai sarah pukul 11:45, tak lupa sebelum kami sampai kami menyempatkan diri untuk membeli nasi dan dibungkus untuk dimakan di tempat tujuan, karena di sungai sarah tidak ada penjual nasi. | Jernihnya air membuat kami lupa akan teriknya panas matahari dan debu disepanjang jalan yang sedang dalam tahap pengerasan, sebelum memulai berenang kami makan dan tentunya berfoto, berfoto adalah hal wajib buat kita. Sungai Sarah memang lumayan asyik buat berenang dan belajar berenang seperti halnya saya, disamping airnya yang jernih dan juga tidak terlalu dalam,sehingga hal ini bisa dimanfaatkan sebagai alternative lain buat tujuan bersepeda. Tapi memang kondisi jalan yang belum terlalu bagus membuat kita enggan datang apalagi jaraknya juga lumayan jauh sekitar -/+ 30KM dari kota Banda Aceh, tetapi buat anda para petualang bersepeda jarak dan jalan adalah hal biasa, liburan ini biasa dibilang liburan murah meriah, berbekal nasi bungkus dan air putih kita bisa
| berenang, menikmati indahnya alam, indahnya kebersamaan dan sekaligus berolah raga. Pukul 14:40 kami meninggalkan lokasi untuk kembali ke Banda Aceh dan tentunya menuju Lokasi tongkrongan Chek yukee untuk menukmati segelas sanger dingin. Hari minggu yang indah buat kami berlima yang awam jalan ke Sungai Sarah, Terimakasih semua. Banda Aceh, 2 November 2008 · Riza Elf · Fanny · Arief · Temennya Kang Arief · Tardi |  |  |  | | | | |
|
|
Track Labuy; Menyelesaikan yang belum terselesaikan |
|
|
|
|
Ditulis oleh Arie Infanto
|
|
Senin, 27 Oktober 2008 05:00 |
 | Labuy terkenal track berdarah. Beberapa cerita lahir disini. Banyak teman yang terjungkal saat melaluinya. Kondisi terparah dialami Ricardo. Dipenghujung track terjungkal hebat akibat permukaan track yang dipenuhi kerikil. Tak pelak lagi, kepala yang terbentur keras dan berdarah kabarnya sempat menyebabkan Ricardo “Amnesia” sesaat. Sesegera mungkin ia dilarikan ke rumah sakit untuk medapatkan perawatan lebih serius. Kondisi sepedanya cukup mengenaskan. Tapi tak perlu separah Ricardo untuk “jera” melaui track itu. Sejak saat itu, Maulana-Mul, yang juga tengah melalui lintasan itu bersama Ricardo juga sudah tidak bersepeda lagi. Syukurlah belakangan ini mulai terdengar ia tengah sibuk membangun sepeda sendiri untuk mulai dari awal lagi (he..hehh. kena racun lagi dia...). Pembahasan tentang kronologis jatuhnya Ricardo di Helsinki membuahkan rencana untuk menjajal kembali track ini di Sabtu minggu depannya. “By the Way”, Justru Ricardo “Trauma” dan Bayu “Newbie” yang sangat bersemangat untuk menjajal track ini. Ric ingin membuktikan kalau trauma itu telah hilang dan Bayu ingin ini track panjang pertamanya. Hampir setiap hari Bayu konsultasi dengan teman-teman tentang persiapan yang dibutuhkan, bahkan sehari sebelum keberangkatan, walau magrib-magrib, “Bike Clinik” | digelar di teras rumah saya untuk memastikan kalau si”Ijo” tunggangannya layak menjajal Labuy. Semangat banget euy............!!!!! | | Malang, tengah malamnya Bayu berkirim SMS pada semua kalau dia diminta “si Bos” harus masuk kantor, “poor Bayu...!!!” Akhirnya setelah berkumpul di Taman Sari berangkatlah pasukan menuju kampus Unsyiah untuk sarapan dan memulai perjalanan Saya yang mengejar ketinggalan rombongan dapat bergabung di simpang Jambotape, Banda Aceh. Setelah sarapan nasi gurih +telur dadar, tehmanis hangat, telur 1/2matang tim berangkat dengan ransel penuh air, snack dan buah-buahan mirip orang akan menghadapi musim dingin yang berkepanjangan. Kabarnya di atas gak ada manusia, apalagi warung. Dengan perut penuh tim melanjutkan perjalanan. Jalanan aspal seputar kampus yang diteduhi pepohonan dan udara segar mengawali perjalanan, lalu berbelok ke perkampungan yang | masih beraspal, lama kelamaan aspalpun berakhir. Jalan mulai menikung. Beberapa persimpangan dalam kampung sempat membingungkan, bahkan Ricardo hampir tidak ingat jalannya (namanya juga Amnesia), untung mas Fathur masih ingat walau kadang bingung juga. Lama kelamaan perasaan mulai gak enak......Bener aja, akhirnya kubangan demi kubangan kelihatan, berlumpur dan tergenang akibat dilalui truk penambang batu. Melihat begitu, kontan aja Andi dan Saya segera berkubang. Namun Ferry “Frey” dibelakang berbeda. Ia turun dan menuntun sepedanya agar tidak basah dan kotor..hah.ahah. (aib neh). Tanjakan demi tanjakan yang gak habis-habisnya membuat Dinil berkali-kali berucap,”Pak Tarigan dan mas Susilo kira-kira sanggup gak ya?..kalo mereka | pulang, gua ikutan ah.....” Namun track tanah yang berfariasi dengan semak, bebatuan dan pemandangan yang ditawarkan cukup mengobati lelah. Setelah memanggul sepeda sekitar 200m di tebing yang terjal dan bebatu bongkahan, tibalah di padang rumput yang juga berbatu tanpa arah dan jejak yang jelas. Setelah meraba beberapa saat, harapan muncul setelah melihat perumahan Budha Suci di depan mata. Dengan menerobos lereng bukit yang sedikit curam dan berbatu bongahan lagi, kami mencapai perumahan itu yang menandai akhirnya track “hutan” ini. Ricardo kegirangan. Ia senang sekali,”akhirnya ku selesaikan juga”, katanya. Lelah yang panjang itu ditutup dengan makan ayam goreng lezat di “Hasan”, Lamnyong. Arie | • Fathurrahman • Ricardo • Arie Infanto • Dinil • Andi W • Ferry “Frey” Cabe • Nobel • Susilo • Pak Tarigan | | |
|
|
|