Home

ABC Login

Online

Tidak Ada

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday156
mod_vvisit_counterYesterday177
mod_vvisit_counterThis week1371
mod_vvisit_counterThis month836
mod_vvisit_counterAll107057
Welcome to Atjeh Bicycle Community
Bike clinic; Bike 2 School PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Arie Infanto   
Minggu, 02 November 2008 11:00
Selanjutnya...
 
Sungai sarah yang jernih PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Tardi   
Minggu, 02 November 2008 11:00
Berawal dari petunjuk teman yang sudah
mengunjungi pada hari sebelumnya,
(Iday cs) bahwa sungai sarah jernih dan
bisa untuk berenang, maka kami
memutuskan untuk berkunjung dengan
sepeda, kami hanya berlima, bermodal sarapan bubur di Blang Padang,
sedangkan saya menunggu di simpang
ajun menunggu mereka sambil sarapan
nasi bungkus, tepat jam 09:00 kami
memulai perjalanan dari Ajun.
Disepanjang jalan yang lumayan terik
pada saat itu, dan lewat petunjuk telp
dari Mba Iday serta Tanya kepada orang
dijalan mengenai arah tempat tujuan,
akhirnya kamipun tiba di sungai sarah
pukul 11:45, tak lupa sebelum kami
sampai kami menyempatkan diri untuk
membeli nasi dan dibungkus untuk
dimakan di tempat tujuan, karena di
sungai sarah tidak ada penjual nasi.
Jernihnya air membuat kami lupa akan teriknya panas matahari dan debu disepanjang jalan yang sedang dalam tahap pengerasan, sebelum memulai berenang kami makan dan tentunya berfoto, berfoto adalah hal wajib buat kita. Sungai Sarah memang lumayan
asyik buat berenang dan belajar
berenang seperti halnya saya, disamping airnya yang jernih dan juga tidak terlalu
dalam,sehingga hal ini bisa
dimanfaatkan sebagai alternative lain buat tujuan bersepeda. Tapi memang kondisi jalan yang belum terlalu bagus membuat kita enggan datang apalagi
jaraknya juga lumayan jauh sekitar -/+ 30KM dari kota Banda Aceh, tetapi buat anda para petualang bersepeda jarak dan
jalan adalah hal biasa, liburan ini biasa dibilang liburan murah meriah, berbekal nasi bungkus dan air putih kita bisa

berenang, menikmati indahnya alam,
indahnya kebersamaan dan sekaligus
berolah raga.
Pukul 14:40 kami meninggalkan lokasi
untuk kembali ke Banda Aceh dan tentunya menuju Lokasi tongkrongan
Chek yukee untuk menukmati segelas
sanger dingin.
Hari minggu yang indah buat kami berlima yang awam jalan ke Sungai Sarah, Terimakasih semua.

Banda Aceh, 2 November 2008
· Riza Elf
· Fanny
· Arief
· Temennya Kang Arief
· Tardi

 
Track Labuy; Menyelesaikan yang belum terselesaikan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Arie Infanto   
Senin, 27 Oktober 2008 05:00

Labuy terkenal track berdarah. Beberapa cerita lahir disini. Banyak teman yang terjungkal saat melaluinya. Kondisi terparah dialami Ricardo. Dipenghujung track
terjungkal hebat akibat permukaan track yang dipenuhi kerikil. Tak pelak lagi, kepala yang terbentur
keras dan berdarah kabarnya sempat menyebabkan Ricardo “Amnesia” sesaat. Sesegera
mungkin ia dilarikan ke rumah sakit untuk medapatkan perawatan lebih
serius. Kondisi sepedanya cukup mengenaskan. Tapi tak perlu separah Ricardo untuk “jera” melaui track itu. Sejak saat itu, Maulana-Mul, yang juga tengah melalui lintasan itu bersama Ricardo juga sudah tidak bersepeda lagi. Syukurlah belakangan ini
mulai terdengar ia tengah sibuk membangun sepeda sendiri untuk mulai dari awal lagi (he..hehh. kena racun lagi dia...). Pembahasan tentang kronologis jatuhnya Ricardo
di Helsinki membuahkan rencana untuk menjajal kembali track ini di Sabtu minggu depannya. “By the
Way”, Justru Ricardo “Trauma” dan Bayu “Newbie” yang sangat
bersemangat untuk menjajal track ini. Ric ingin membuktikan kalau trauma itu telah hilang dan Bayu ingin ini track panjang pertamanya. Hampir setiap hari Bayu konsultasi dengan teman-teman tentang
persiapan yang dibutuhkan, bahkan sehari sebelum keberangkatan, walau magrib-magrib, “Bike Clinik”

digelar di teras rumah saya untuk memastikan kalau si”Ijo”
tunggangannya layak menjajal Labuy. Semangat banget euy............!!!!!

Malang, tengah malamnya
Bayu berkirim SMS pada semua
kalau dia diminta “si Bos” harus
masuk kantor, “poor Bayu...!!!”
Akhirnya setelah berkumpul di
Taman Sari berangkatlah pasukan
menuju kampus Unsyiah untuk
sarapan dan memulai perjalanan
Saya yang mengejar ketinggalan
rombongan dapat bergabung di
simpang Jambotape, Banda Aceh.
Setelah sarapan nasi gurih
+telur dadar, tehmanis hangat,
telur 1/2matang tim berangkat
dengan ransel penuh air, snack
dan buah-buahan mirip orang
akan menghadapi musim dingin
yang berkepanjangan. Kabarnya
di atas gak ada manusia, apalagi
warung. Dengan perut penuh tim
melanjutkan perjalanan. Jalanan
aspal seputar kampus yang
diteduhi pepohonan dan udara
segar mengawali perjalanan, lalu
berbelok ke perkampungan yang
masih beraspal, lama kelamaan
aspalpun berakhir. Jalan mulai
menikung. Beberapa
persimpangan dalam kampung
sempat membingungkan, bahkan
Ricardo hampir tidak ingat
jalannya (namanya juga Amnesia),
untung mas Fathur masih ingat
walau kadang bingung juga. Lama
kelamaan perasaan mulai gak
enak......Bener aja, akhirnya
kubangan demi kubangan
kelihatan, berlumpur dan
tergenang akibat dilalui truk
penambang batu. Melihat begitu,
kontan aja Andi dan Saya segera
berkubang. Namun Ferry “Frey”
dibelakang berbeda. Ia turun dan
menuntun sepedanya agar tidak
basah dan kotor..hah.ahah. (aib
neh). Tanjakan demi tanjakan
yang gak habis-habisnya membuat
Dinil berkali-kali berucap,”Pak
Tarigan dan mas Susilo kira-kira
sanggup gak ya?..kalo mereka
pulang, gua ikutan ah.....” Namun
track tanah yang berfariasi dengan
semak, bebatuan dan
pemandangan yang ditawarkan
cukup mengobati lelah. Setelah
memanggul sepeda sekitar 200m
di tebing yang terjal dan bebatu
bongkahan, tibalah di padang
rumput yang juga berbatu tanpa
arah dan jejak yang jelas. Setelah
meraba beberapa saat, harapan
muncul setelah melihat
perumahan Budha Suci di depan
mata. Dengan menerobos lereng
bukit yang sedikit curam dan
berbatu bongahan lagi, kami
mencapai perumahan itu yang
menandai akhirnya track “hutan”
ini. Ricardo kegirangan. Ia senang
sekali,”akhirnya ku selesaikan
juga”, katanya. Lelah yang
panjang itu ditutup dengan makan
ayam goreng lezat di “Hasan”,
Lamnyong. Arie
• Fathurrahman
• Ricardo
• Arie Infanto
• Dinil
• Andi W
• Ferry “Frey” Cabe
• Nobel
• Susilo
• Pak Tarigan
 
« MulaiSebelumnya1234BerikutnyaAkhir »

Halaman 4 dari 4