ABC Login
Online
Tidak AdaVisitors Counter







![]() | Today | 164 |
![]() | Yesterday | 177 |
![]() | This week | 1379 |
![]() | This month | 844 |
![]() | All | 107065 |
| Brownis Bandung |
|
|
| Ditulis oleh Dedy Istanto | |||
|
Berbagi cerita perjalanan Jakarta – Bandung 08 – 10 February 2009. ![]() “Seperti apa yang telah di SMS kan oleh rekan Awal….berbagi cerita perjalanan kepada rekan – rekan yang lain, semoga ini bisa menambah semangat untuk kita selalu berbagi. Perjalanan bersepeda tidak melulu selalu membuat susah untuk kita menjalankannya. Seperti kata rekan Ali “ secara fisik memang itu pasti lelah, caupe, namun secara Iman itu belum tentu “ sedikit tersenyum walau ini hanya sekedar gurauan, toh akhirnya perjalanan Jakarta ke Bandung tetap dijalankan. Sedikit ragu dan tak mampu dengan ajakan Ali menempuh perjalanan Jakarta – Bandung dengan bersepeda mungkin perlu dipertimbangkan dengan baik. Baru sehari bertemu di Margonda, Depok dengan Ali entah mengapa yang pertama terencana langsung mengajak jalan ke Bandung dengan bersepeda. Ah…ini pasti hanya biasa, sampai akhirnya memang menjadi sebuah perencanaan serius. Ini bukan pertama kalinya rekan Ali bersepeda dengan jarak jauh, sebelum berangkat ke Sudan, Afrika doi juga pernah melakoni perjalanan solo nya Jakarta – Puncak, Cipanas…edah euy….tapi itulah Ali Berlanjut hari berikutnya ternyata apa yang telah direncanakan untuk melakukan perjalanan terus dibicarakan, sampai akhirnya membuahkan keputusan bahwa hari Senin, tanggal 08 – February 2009 nanti kita akan berangkat. Walaupun secara fisik menolak, tapi ada benarnya juga iman terus menghantui, apa daya ini merupakan sebuah pengalaman perjalananan, tak ada salahnya untuk dicoba. Sepakat! Kita berangkat………… Hari Senin, 08 February 2009 pukul 06.30 wib ![]() Pertemuan kita di pagi ini adalah stasiun kereta Universitas Indonesia, Depok menuju stasiun Bogor. Dengan ongkos tiket kereta Rp 5000 untuk dua orang kita bisa sedikit menghemat tenaga untuk menuju Bogor. Sesampainya di stasiun Bogor pukul 07.45 menit, dengan suasana yang masih mengantuk karena jatah jam tidurnya berkurang tapi tak mengapa, toh nanti kita bisa beristirahat untuk balas dendam. Di Bogor status cyclo di sepeda menunjukan angka 25 kilo meter, dengan alat ini kita bisa melihat berapa kira – kira jarak yang harus kita tempuh selama dalam perjalanan. Dengan bekal bubur ayam kami sarapan di terminal Baranangsiang. Kondisi cuaca saat itu memang sedang gerimis, tak lupa kami pun sudah menyediakan segala perlengkapan. Perjalanan kami mulai dari Baranangsiang sekitar pukul 09.00 wib, melewati Tajur sampai akhirnya beristirahat sejenak untuk membeli air di Ciawi. Sekitar 15 menit kami pun melanjutkan perjalanan sesungguhnya yaitu jalur Puncak yang kondisinya pasti diantara kalian sudah mengetahui. Tanjakan yang begitu sering dijumpai membuat kita kadang mematahkan semangat, tapi tak mengapa kita coba saja sampai dimana lutut ini bisa bertahan. Untuk tanjakan awal kami masih bisa santai karena masih sedikit dan lagi pula masih ada jalan datarnya, lumayan masih bisa untuk bernafas. Kemudian sesampainya kita di Gadok – Cipayung laju sepeda sudah mulai merintih, tentu ini bukan karena sepedanya yang bermasalah tapi karena pengendaranya yang mulai melemah. Sedikit demi sedikit shifter pengganti gir dimainkan pastinya mencari yang ringan untuk genjotnya, he..he…tentu ini bukan perkara ringan dan tidak ringan, tapi ini masalah iman…ha..ha……sampai akhirnya memang terpaksa kita mengakui kehebatan arsitek jalur puncak ini, kita mulai turun dari sepeda dan berjalan beriringan layaknya bak pasangan. Selama menuntun kami pun juga lupa untuk bernafas…he..he….oke..sekarang mulai mengatur nafas….fiuhh….fiuhhhh…..wooosshaaa…….. Dari Ciawi kita pukul 09.30 sampai di Cipayung itu kalo tidak salah pukul 10.30 wib. Tentu dengan nafas yang terpongoh – pongoh…..kalo tidak salah saya sempat report melalui SMS ke beberapa rekan untuk memberitahukan posisi kami. Sambil menunggu balasan, dan pastinya mengambil nafas kami pun melanjutkan perjalan, sedikit dari tempat kami berhenti didepan ternyata ada sebuah resto yang kalo tidak salah menyajikan minuman susu murni sapi, wah menarik….untuk bersugesti. Segeralah kita mampir untuk menikmati beberapa cangkir susu murni…sapi..loh…ya….. ![]() Sekitar 30 menit kami berada diresto tersebut sampai akhirnya kita lanjut kembali. Pertama gowes dari tempat tersebut cukup semangat…..mungkin karena sugesti susu itu kaleee ya…he..he…sampai mendekati Cisarua ternyata susu tersebut belum bekerja maksimal….begitu melihat tanjakan lagi….ternyata lemas lagi. Ya sudahlah perlahan sekali kami gowes karena tanjakan, ditambah lagi…kondisi cuaca saat itu tetap mendung dan gerimis..kemudian kabut yang begitu tebal sehingga jarak pandang kami pun juga sedikit terganggu. Baiklah sekarang kita kembali ke perjalanan, selama berada di wilayah Cisarua kami tidak mendapatkan kesulitan karena tanjakannya masih bisa dilampaui dan juga ada beberapa jalan datarnya jadi tidak begitu terasa. Yang membuat kita merasa sedikit lemah ketika kita sudah melewati Cisarua alias Taman Satwa itu….disini kami kembali menuntun sepeda karena memang tanjakannya semakin lancip (apalah itu bahasanya) ya…pokonya semakin membuat kita terpatah – patah…alahhhh…..opo meneh iki….. Disini kami kembali beristirahat sejenak…dengan memesan segelas the tawar..sambil menghangatkan badan…dan tentunya mengambil nafasnya masing – masing…….he..he.. Kami pun sempat bertanya kepada pemilik kedai tersebut…berapa kira – kira jarak untuk ke Gunung Mas….kata Akang tersebut mungkin sekitar 3 kilo lagi dari sini. Okelah kami pun bergegas untuk kembali melanjutkan perjalanan. Memang benar apa yang dikatakan si akang tadi…teryata memang 3 kilo…tapi yang menjadi masalah bukan 3 kilonya tapi…tanjakannya he.he…..setelah kita melewati Gunung Mas…sekitar dua tebing kami pun memutuskan untuk berhenti….terus terang saat itu..perut saya sudah terasa lapar..tak ada salahnya karena waktu juga sudah pukul 12.30 Wib. Kami pun berhenti di kedai yang menyediakan jajanan mie instant….makan..makan Jam 13.15 menit kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Setelah rasa lapar sudah terpenuhi….mungkin agak sedikit berlagak…kami pun gowes dengan santai. Kali ini memang benar – benar penuh perjuangan, karena setelah kita lanjutkan…tanjakannya juga semakin panjang. Titik selanjutnya menuju tempat yang biasa para pelancong singgah yaitu Masjid…entah apa namanya….masih akan ditempuh sekitar 3 bukit lagi. Dijalur ini ke tiga kalinya kami menuntun sepeda….sampai akhirnya singgah di Masjid tersebut, karena rekan Ali menyempatkan diri untuk melaksanakan ibadah kepada Sang Pencipta. Setelah selesai kami pun melanjutkan perjalanan. Selang berapa menit dari perjalanan tiba – tiba cuaca kembali mendung dan gerimis mulai perlahan berdatangan. Asap kabut yang tebal malah membuat sebal, perjalanan kami pun dihentikan dan mulai menuntun kembali. Apa yang telah diberitahukan oleh si penjaga warung bahwa jaraknya hanya tinggal 2 kilo untuk menuju rindu alam ternyata tidak pas. Dengan kabut yang tebal pun kami dengan santai menuntun sampai ke puncak rindu alam. Alhasil hanya tinggal satu tikungan lagi kami segera sampai. Disinilah titik point penghabisan tanjakan puncak yang telah menyelimuti perjalanan ini. Dengan nafas yang tersendat – sendat kami pun segera menyegarkan otot kembali. Dengan sedikit senyum kami pun melihat bonus turunan yang begitu panjang. Tak sabar kaki ini untuk menggowes akhirnya keceriaan, teriakan, dan senyuman sepanjang turunan membuat kami pun semakin lupa akan tanjakan yang barusan dilaluinya. Sekitar 15 – 20 menit mulai dari rindu alam sampai dengan Cipanas, gowes santai sambil menikmati suasana Cipanas menjadikan rasa lelah terlupakan. Waktu di Cipanas menunjukkan pukul 16.30 Wib, tak lupa kami pun berhenti sejenak di rumah makan untuk melampiaskan rasa lapar kami. Tampa komando yang jelas sate kambing, dan gulai pun disantapnya dengan lahap. Selesainya kami makan, diskusi pun mulai dibicarakan. Kali ini kita akan membicarakan bagaimana perjalanan selanjutnya, apakah kita akan melanjutkan sampai ke Cianjur atau kita akan menginap di Cipanas. Dengan segala pertimbangan teknis maupun kondisi alam, akhirnya tok…tok..palu diketok, kami pun memutuskan untuk mencari sebuah hotel untuk bermalam di Cipanas. Jarak tempuh dalam perjalanan dari Ciawi ke Cipanas sekitar 32 kilometer. ………zzzzzz…….zzzzzzzzzzzz…..zzzzzzzzzzz………………….
Esok harinya, 09 February 2009 waktu 05.30 Wib …..Selamat pagi Indonesia, ![]() Bangun pagi dengan segar kami pun segera bergegas untuk membereskan segala perlengkapan dan peralatan yang ada. (Ada yang aneh…kenapa bangun tidur langsung beres perlengkapan, bukannya harus mandi…? ) nah kebiasaan lama…..kalo ali pasti mandi dulu…kalo gw ya…hanya mandi koboy..saja……ok lanjut. Setelah beres mengecek perlengkapan dan peralatan terutama Sepeda…kami pun sedikit melakukan pemanasan kecil yaitu dengan merenggangkan otot – otot yang telah lama tidur. Waktu menunjukkan jam 06.30, petugas hotel pun sudah ada disekitar kamar kami pun segera berangkat. Nuhun kang…doa’ ken sampai ke Bandung nyak… Dengan laju santai kami pun bisa menikmati udara pagi yang begitu asri, karena kendaraan bermotor belum banyak dijumpai. Hampir sekitar 30 menit kami menggowes, tak luput pandangan kami dari sebuah gerobak bubur ayam menggoda kita untuk berhenti, waktunya sarapan untuk bekal perjalanan. Sekitar 15 menit kami sarapan, akhirnya perjalanan kami lanjutkan. Perjalanan ke Cianjur ternyata begitu mengejutkan, karena sepanjang jalan diisi dengan turunan yang begitu panjang. Wouw……..ini benar tidak memakan waktu banyak karena tidak terasa hanya dengan waktu 30 menit kami sudah sampai di kota Cianjur. Jarak dari Cipanas sampai Cianjur sekitar 19 kilo meter. Saking asyiknya laju turunan, teriakan Ali memanggil saya pun tidak mendengar. Karena di Cianjur kami sepakat akan mampir sebentar di rumah saudaranya Ali. Dengan bertanya – tanya kepada warga akhirnya kami mutar balik kembali ke jalan utama. Dengan gowes santai akhirnya Ali mencoba mengingat – ingat apa patokan jalannya. Sampai di sebuah sekolah dasar, kami berhenti dan akhirnya kami pun bertemu dengan salah satu saudaranya Ali yang ternyata sedang menunggu di sebuah lorong jalan. Kami pun segera menhampirinya dan bergegas mampir kerumahnya. Hampir sekitar satu jam kami bersilahturahmi dengan saudara Ali, maka bersiap – siap kembali kami melanjutkan perjalanan. Tepat jam 08.30 wib kami berangkat dengan suasana yang masih segar, karena cuaca hari ini agak sedikit mendung dan tidak terasa panas. Perjalanan kali ini kami melewati Ciranjang yang cukup melelahkan, karena sepanjang jalan ini kami dijumpai tanjakan kembali. Bukit kapur yang cukup dikenal ini memang kondisi konturnya menanjak dan berliku. Tak heran kalau perjalanan kami pun juga sedikit perlahan, karena tenaga dan energi untuk menggowes sudah mulai menurun. Dipertengahan jalan ketika kami sedang beristirahat tidak sengaja kami melihat seorang dengan sepedanya melintas didepan kami. Sambil makan dan minum kita mulai bertanya – tanya hendak kemana orang tersebut? Kalo dilihat dari perlengkapan sepedanya mungkin dia sedang melakukan perjalanan juga ke Bandung. Tampa berpikir panjang sambil menikmati mie instant kita berucap nanti kita coba kejar dia. Setelah makan dan minum selesai kami pun segera melanjutkan perjalanan. Waktu menunjukan pukul 10.30 wib, terik matahari sudah mulai terasa akhirnya kami gowes sepeda dengan santai. Melihat kondisi jalan yang masih menanjak namun tidak curam ini kami akhirnya bertemu dengan orang yang bersepeda tadi. Ternyata dia sedang beristirahat disebuah warung, sambil makan ubi dia menyapa dan kami pun segera menghampirinya. Sepeda dipakirkan kami pun mulai saling berkenalan, dan bertanya satu sama lain. Setelah lumayan ngobrol panjang, ternyata Ardan kalau tidak salah namanya adalah orang Magelang, Jawa tengah. Wouw……ternyata orang jauh, kita pikir dia orang Bandung ternyata bukan, dia hanya mampir ke Bandung hanya untuk melanjutkan perjalanannya ke Cirebon….dan langsung kembali ke Magelang. Setelah ngobrol – ngobrol kita sudahi akhirnya kita melanjutkan perjalanan dengan salah satu teman yang baru kenal. Satu dua tanjakan dan berliku kami lakoni dengan santai, wow..ternyata kawan baru kita ini memang sangat ahli dalam mengendalikan sepedanya, tak kuatnya kaki saya menahan apalagi mengimbangi dia. Tak lama saya bilang ke dia, kalau memang sampean ingin buru – buru, silakan lanjutkan perjalanannya, jangan tunggu kita nanti malah memakan waktu. Akhirnya kawan kita mengiyakan dan dengan cepat dia menggowes sepedanya. Saya masih menuggu Ali yang masih dibelakang. Jalur batu kapur ini memang begitu panjang, apalagi setiap jalannya dilengkapi dengan tanjakan yang tak henti – henti. Selain itu juga kawasan ini dipenuhi dengan laju bis dan truk pengangkut yang membuat kesal selama perjalanan. Sambil menunggu disebuah warung kami beristirahat sebentar, cuaca yang panas membuat kami cepat dehidrasi. Dua botol air mineral langsung habis kami minum, dan sedikit cemilan. Sekitar 10 menit kami diwarung tersebut, kami pun tak lupa bertanya kepada pemilik warung apakah masih ada tanjakan lagi……he.he…. Ternyata kata ibu penjaga warung tersebut, tanjakan hanya tinggal satu lagi, setelah itu akan ada turunan, wah….semangat kami pun mulai muncul kembali, bergegaslah kami berangkat. Jarak tempuh dari Cianjur sampai Batu kapur kalo tidak salah sekitar 25 kilometer dengan memakan waktu sekitar 2 jam setengah. Memang angka yang tidak banyak, namun kalau digowes dengan nanjak pasti akan terasa pula panjangnya. Sampai di bonus turunan kami pun kembali dibuat senang, walau tidak sepanjang jalur puncak, tapi ini lumayan untuk mengistirahatkan kaki sejenak. Melewati kota kecil entah lupa namanya, kami pun mulai memasuki keramaian pasar. Sepanjang jalan yang datar dan tidak ada tanjakan kami mulai gowes santai sambil menikmati perjalanan. Kali ini kita akan menuju Padalarang yang merupakan jalan utama untuk masuk ke wilayah Bandung. Hampir sekitar setengah jam kami sudah memasuki kawasan Padalarang yang ramai dipenuhi dengan kendaraan, baik itu bis, truk, angkot dan segala macam orang. Papan petunjuk arah yaitu ke Bandung membuat kami senang karena kita hampir mendekati tujuan. Dengan kondisi awan panas dan ramainya kendaraan membuat perjalanan kami melaju pelan, karena selain panas kami juga dipusingkan dengan jumlah kendaraan bermotor yang begitu banyak. Tepat jam 13.20 wib kami sudah memasuki wilayah Kota Cimahi, sedikit lupa kalau masuk wilayah Bandung harus melewati Cimahi dulu, Ini makanya kami kesal…kapan sampainya…..fiuhhhh Tak lama kami gowes hampir sekitar satu jam setengah kami akhirnya sampai di Kota Bandung. Dengan senyum yang menunjukan kesenangan akhirnya perjalanan kami selesaikan. Sambil menikmati suasana kota yang dituju, rekan Ali mengajak untuk merayakan kemenangan ini. Pokonya kita harus merayakan dengan makan dan minum yang enak – enak. Ha..ha..tak salah lagi, karena Ali yang memang suka sekali benda - benda bersejarah…kami pun singgah di Hotel Homman yang menjadi peninggalan bangsa Belanda. Tepat jam 14.30 kami duduk di bangku restoran yang ada di hotel tersebut. Fiuhhhh…..sambil mengatur nafas yang tersendat….kami pun mulai memesan menu yang telah disediakan. Dengan senyum kesenangan dan kegembiraan karena perjalanan, kami pun mulai saling bercanda…..ha..ha…… Waktu tempuh yang ada dicyclo sepeda saya menunjukan 169 kilometer. Entah ini jarak tempuh normal atau tidak yang jelas kami pun sudah selamat sampai tujuan di kota Bandung. Terima kasih atas segala doa dan restunya.
Salam lestari dedyistanto
|










