Mau cerita sedikit tentang Aceh
Ketika saya pertama kali bekerja di Banda Aceh, tahun 2003, yang memakai sepeda hanya bapak-bapak tua yang membawa belanjaan ke pasar atau membawa ilalang untuk makanan ternak. Ada juga anak-anak sekolah. Setelah tsunami, cukup banyak pendatang yang bekerja di lembaga pembangunan dan rehabilitasi yang bersepeda ke kantor atau sekedar menikmati pantai dan bukit. Orang Aceh lebih suka membeli motor baru dan seringkali bertanya bingung mengapa orang-orang pendatang ini suka bersepeda walau jauh lebih mampu membeli kendaraan. Ketika Atjeh Bicycle Community (ABC) -yang kemudian menjadi chapter B2W Aceh - dibentuk tahun 2005, hanya 1-2 orang Aceh yang bergabung. Warga pendatang, karena jauh dari keluarga, tidak memiliki banyak pilihan kegiatan di Banda Aceh, dan merasa lebih praktis membeli sepeda daripada kendaraan bermotor, semakin banyak yang bergabung. Selain di Banda Aceh, para pendatang yang bekerja di kota-kota lain juga membuat kelompok-kelompok ABC lokal (di Sigli, Lhoksumawe, Bireun). Kelompok ini gencar mempromosikan kegiatan bersepeda serta bike to work. Jika ada anggota ABC yang ke Jakarta atau medan, mereka menawarkan kepada teman-temannya yang belum bersepeda untuk dibawakan/dibelikan sepeda rakitan yang bagus dari Jakarta atau Medan. Teman-teman yang belum bersepeda diracuni, diajak keliling kota, menyusuri pedesaan atau ke bukit dengan dipinjami sepeda. Cewek-cewek cantik mengajak pemuda-pemuda untuk bersepeda, pemuda tampan manjadi umpan untuk mengajak gadis-gadis bersepeda. Bike to Work Day dirayakan rutin, event-event pameran diikuti, kelompok-kelompok tertentu (mahasiswa, pelajar) didekati. Setelah 2-3 tahun baru tampak hasilnya. Sekarang semakin banyak warga Banda Aceh dan daerah-daerah lain yang bersepeda. Anggota milis ABC yang terdarftar di milis sekarang ada lebih dari 300 orang. Anggota kelompok vespa, jeep offroad, mulai beralih ke sepeda. Toko sepeda paling terkenal di Banda Aceh, toko Serikat, yang dulu kesulitan menjual group set (tanya penduduk setempat, "kok harga perlengkapan sepeda lebih mahal dari sepedanya??") sekarang sudah menjadi dealer polygon dan menyediakan berbagai group set mutakhir. Kelompok dan club sepeda menjamur. Semakin banyak mahasiswa dan pelajar di kota Banda Aceh yang bersepeda dan memakai tag Bike to Campus atau Bike to School. Pejabat senior pemerintah,yang ketika kecil dan muda bersepeda, membersihkanb dan memakai kembali sepeda tua mereka (gazelle, raleigh, dll). Warung Canai (roti cane) dan teh tarik yang menjadi tempat favorit untuk berkumpul anggota-anggota awal ABC sekarang semakin besar dan rutin dipenuhi pencinta sepeda, dan tempat parkir sepeda untuk umum yang pertama di Banda Aceh dibangun di tempat itu oleh pemilik warung. Gubernur bahkan meminta pegawai negeri bersepeda di hari jumat dan sabtu. Jalanan Banda Aceh yang dulu asing dengan pekerja yang bersepeda ke kantor mereka sekarang ramai oleh sepeda-sepeda terbaru dan tercanggih. Bagaimana dengan para pendatang yang sekarang kembali ke daerah asalnya seiring dengan menipisnya pekerjaan di Aceh? Mereka yang dulunya asing dengan sepeda mendapat kesempatan untuk menikmati bersepeda di kota banda aceh yang kecil dan tingkat polusinya relatif tidak separah kota-kota besar. Kebiasaan tersebut dibawa ketika mereka kembali ke kota asal mereka. Kota Banda Aceh kecil (dari ujung ke ujung tidak lebih dari 10 km), memiliki jalan datar dan tersedia banyak pilihan lain bagi yang ingin menikmat sepeda (perbukitan dan pedesaan tinggal belok dan gowes sedikit "keluar" kota). Semua mendorong kegiatan bersepeda. Bukan tidak mungkin Banda Aceh akan segera terkenal sebagai kota sepeda di Indonesia, dimana penduduknya melakukan kegiatan dan menuju tempat kegiatan (kantor, kampus, sekolah, pasar) dengan sepeda. Semoga kota-kota di Bali juga bisa dikenal sebagai kota sepeda. Salam gowes, Ali
|