|
Ditulis oleh Ali
|
|
Senin, 27 April 2009 17:50 |
Mau cerita sedikit tentang Aceh
Ketika saya pertama kali bekerja di Banda Aceh, tahun 2003, yang memakai sepeda hanya bapak-bapak tua yang membawa belanjaan ke pasar atau membawa ilalang untuk makanan ternak. Ada juga anak-anak sekolah. Setelah tsunami, cukup banyak pendatang yang bekerja di lembaga pembangunan dan rehabilitasi yang bersepeda ke kantor atau sekedar menikmati pantai dan bukit. Orang Aceh lebih suka membeli motor baru dan seringkali bertanya bingung mengapa orang-orang pendatang ini suka bersepeda walau jauh lebih mampu membeli kendaraan. Ketika Atjeh Bicycle Community (ABC) -yang kemudian menjadi chapter B2W Aceh - dibentuk tahun 2005, hanya 1-2 orang Aceh yang bergabung. Warga pendatang, karena jauh dari keluarga, tidak memiliki banyak pilihan kegiatan di Banda Aceh, dan merasa lebih praktis membeli sepeda daripada kendaraan bermotor, semakin banyak yang bergabung. Selain di Banda Aceh, para pendatang yang bekerja di kota-kota lain juga membuat kelompok-kelompok ABC lokal (di Sigli, Lhoksumawe, Bireun). Kelompok ini gencar mempromosikan kegiatan bersepeda serta bike to work. Jika ada anggota ABC yang ke Jakarta atau medan, mereka menawarkan kepada teman-temannya yang belum bersepeda untuk dibawakan/dibelikan sepeda rakitan yang bagus dari Jakarta atau Medan. Teman-teman yang belum bersepeda diracuni, diajak keliling kota, menyusuri pedesaan atau ke bukit dengan dipinjami sepeda. Cewek-cewek cantik mengajak pemuda-pemuda untuk bersepeda, pemuda tampan manjadi umpan untuk mengajak gadis-gadis bersepeda. Bike to Work Day dirayakan rutin, event-event pameran diikuti, kelompok-kelompok tertentu (mahasiswa, pelajar) didekati. Setelah 2-3 tahun baru tampak hasilnya. Sekarang semakin banyak warga Banda Aceh dan daerah-daerah lain yang bersepeda. Anggota milis ABC yang terdarftar di milis sekarang ada lebih dari 300 orang. Anggota kelompok vespa, jeep offroad, mulai beralih ke sepeda. Toko sepeda paling terkenal di Banda Aceh, toko Serikat, yang dulu kesulitan menjual group set (tanya penduduk setempat, "kok harga perlengkapan sepeda lebih mahal dari sepedanya??") sekarang sudah menjadi dealer polygon dan menyediakan berbagai group set mutakhir. Kelompok dan club sepeda menjamur. Semakin banyak mahasiswa dan pelajar di kota Banda Aceh yang bersepeda dan memakai tag Bike to Campus atau Bike to School. Pejabat senior pemerintah,yang ketika kecil dan muda bersepeda, membersihkanb dan memakai kembali sepeda tua mereka (gazelle, raleigh, dll). Warung Canai (roti cane) dan teh tarik yang menjadi tempat favorit untuk berkumpul anggota-anggota awal ABC sekarang semakin besar dan rutin dipenuhi pencinta sepeda, dan tempat parkir sepeda untuk umum yang pertama di Banda Aceh dibangun di tempat itu oleh pemilik warung. Gubernur bahkan meminta pegawai negeri bersepeda di hari jumat dan sabtu. Jalanan Banda Aceh yang dulu asing dengan pekerja yang bersepeda ke kantor mereka sekarang ramai oleh sepeda-sepeda terbaru dan tercanggih. Bagaimana dengan para pendatang yang sekarang kembali ke daerah asalnya seiring dengan menipisnya pekerjaan di Aceh? Mereka yang dulunya asing dengan sepeda mendapat kesempatan untuk menikmati bersepeda di kota banda aceh yang kecil dan tingkat polusinya relatif tidak separah kota-kota besar. Kebiasaan tersebut dibawa ketika mereka kembali ke kota asal mereka. Kota Banda Aceh kecil (dari ujung ke ujung tidak lebih dari 10 km), memiliki jalan datar dan tersedia banyak pilihan lain bagi yang ingin menikmat sepeda (perbukitan dan pedesaan tinggal belok dan gowes sedikit "keluar" kota). Semua mendorong kegiatan bersepeda. Bukan tidak mungkin Banda Aceh akan segera terkenal sebagai kota sepeda di Indonesia, dimana penduduknya melakukan kegiatan dan menuju tempat kegiatan (kantor, kampus, sekolah, pasar) dengan sepeda. Semoga kota-kota di Bali juga bisa dikenal sebagai kota sepeda. Salam gowes, Ali |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Ditulis oleh Dedy Istanto
|
|
Rabu, 18 Februari 2009 17:47 |
|

Cerita punya cerita kenapa Pulau ini dinamakan Pulau Nasi ternyata cukup sederhana. Konon pada saat waktu berlayar dari Pulau menuju daratan Banda Aceh ataupun sebaliknya, dengan berbekal sebungkus nasi masih bisa dapat dimakan atau tidak basi sampai tujuan. Sederhana namun logis, kenapa akhirnya pulau ini disebut Pulau Nasi. Pulau yang terletak di ujung barat Nanggroe Aceh Darusallam ini merupakan salah satu pulau yang berada diluar daratan Pulau Sumatera. Bila dilihat dalam peta secara geografis letaknya bisa dikatakan berada diujung daratan Sumatera. Pulau yang secara Administratif masuk kedalam struktur wilayah Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar ini merupakan salah satu pulau huni atau pemukiman yang terbagi menjadi 5 Desa yaitu Desa Deudap, Alue Reuyeung, Pasi Janeng, Lamting, dan Rabo. Dengan kondisinya yang berada tidak jauh dari daratan Banda Aceh, maka pulau ini cukup menarik untuk bisa dikunjungi. |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
13 Hikayat – Atjeh Bicycle Community |
|
|
|
|
Ditulis oleh Susachachmatsich
|
|
Selasa, 13 Januari 2009 10:00 |
|
01. NEKAT Setahun yang lalu, sejumlah petualang bersepeda Banda Aceh menyeberang ke pulang Weh, Sabang. Agenda utamanya adalah menyambut dan merayakan kedatangan tahun baru 2008. Karena kesibukan waktu masing masing, keberangkatan para petualang bersepeda ini dibagi ke dalam dua kloker (kelompok biker). Kloker 1, berangkat pada tanggal 29 Desember 2007. Sehari kemudian disusul oleh Kloker 2, berangkat tanggal 30 Desember 2007. Menyeberang dengan Ferry lambat di terik siang yang menyengat. Tetap bersemangat walaupun badan berpeluh keringat. Bahkan ada yang tak perduli kalau saat itu badannya mulai terasa nggak sehat. Kenekatan 1 Selepas dari Pelabuhan Balohan, saat menaklukkan tanjakan setan-Cot Abeh, badan sang kawan sudah mulai tak kuat. Tapi dengan tekad campur nekat beliau mampu menyelesaikan perjalanan sampai ke Kota Sabang. Salut buat sang kawan! Sesampainya di kota, beliau dirujuk ke rumah sakit terdekat. Kata Perawat, sang kawan harus dirawat inap. Kawan kawan lain yang masih sehat akhirnya pun sepakat. Semoga lekas sembuh kawan, izinkan kami meneruskan perjalanan! |
|
Selanjutnya...
|
|
Sepeda versus Sepeda Motor |
|
|
|
|
Ditulis oleh Susachachmatsich
|
|
Senin, 22 Desember 2008 10:32 |
|
Beberapa waktu yang lalu, Koran Serambi Indonesia memuat berita Ekonomi & Bisnis pada halaman 11 dengan headline “ Penjualan Sepmor di Aceh Masih Tinggi “. Seperti diberitakan Serambi, lewat Kajian Ekonomi Regional Triwulan III Tahun 2008, Bank Indonesia (BI) - Banda Aceh memprediksi penjualan sepeda motor di Aceh masih tinggi, bahkan sampai enam tahun ke depan. Publikasi laporan ini dapat diakses melalui situs resmi BI : www.bi.go.id. Logikanya sederhana saja. Satu rumah butuh satu unit sepeda motor. Penduduk Aceh diperkirakan 4 juta jiwa. Dengan asumsi satu rumah dihuni oleh 4 orang, maka kebutuhan sepeda motor di Aceh adalah 1 juta unit. Dari kebutuhan 1 juta unit itu, diperkirakan yang baru terpenuhi saat ini sekitar 400.000 unit. Jadi ada kekurangan sekitar 600.000 unit lagi. Pasca tsunami, penjualan sepeda motor di Aceh mencapai 100.000 unit per tahun. Maka sampai enam tahun ke depan potensi pasar sepeda motor di Aceh masih sangat prospektif. |
|
Selanjutnya...
|
|
|